Menguak Pesona Jembatan Bolong Mamuju

Jembatan Bolong begitu mereka menyebutnya, di pandangan saya jembatan ini hanyalah jembatan biasa, tak ada yang istimewa ataupun ekslusif penampakannya. Ia mirip dengan jembatan-jembatan lain yang ada di jalur trans Sulawesi Barat. Jembatan ini terletak di daerah Takandeang, kecamatan Tappalang kabupaten Mamuju dan merupakan  jalur mutlak yang harus anda lalui jika anda ingin menuju wilayah barat pulau Sulawesi. Jarak jembatan juga tidak terlalu jauh, mungkin hanya sekitar beberapa meter, bahkan bisa dikatakan jaraknya cukup pendek untuk ukuran jembatan umumnya. Jika saya ukur secara kasar, jembatan sungai Mapilli di kabupaten Polewali Mandar lebih panjang dibandingkan jembatan ini.

jembatan bolong mamuju sulawesi barat
Jembatan bolong Mamuju, Sulawesi Barat (Foto : Tommuane Mandar)
Lalu apa yang istimewa dari jembatan Bolong? mungkin ini pertanyaan banyak orang, mari kita telisik lebih dalam. Posisi yang strategis jembatan ini salah satunya, ia adalah jalur penghubung yang fungsinya sentral di kabupaten ini. Secara tampak fisik jembatan ini seperti menghubungkan 2 daerah di kecamatan Tappalang.

Pesona sungai di bawah jembatan Bolong juga merupakan satu dari sekian keindahan yang mendukung popularitas jembatan ini. Walaupun popularitas jembatan ini lebih didominasi oleh cerita-cerita misteri dibaliknya. Tetapi menurut saya sungai dibawah jembatan inilah yang menjadi pelengkapnya. Keindahannya telah saya buktikan sendiri. Kondisi degradasi lingkungan yang kian parah memang sedikit banyak mempengaruhi sungai dibawah jembatan ini, debit airnya tidak lagi deras, maka kemudian cenderung terjadi pendangkalan di sungai ini, hingga batu-batu di sungai ini terlihat dengan jelas.

Kombinasi vegetasi diatas jembatan Bolong lebih menarik lagi, dan ini yang tampak begitu jelas saat saya mampir sejenak dan menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di jembatan ini. Pohon-pohon berukuran tinggi dengan diameter yang tidak biasa, dengan ranting serupa akar rotan yang menjuntai kebawah menambah keasriannya. posisi jembatan Bolong yang strategis dengan letak diantara pegunungan yang tinggi membuat panorama di sekitarnya begitu indah dengan posisi jurang dalam di sisi pegunungan. Jurang ini yang kemudian membuat resiko kecelakaan lalu lintas menjadi sangat tinggi di daerah ini.

Di ujung jembatan bolong pada bulan-bulan tertentu anda dapat menemukan penjual buah khas pedalaman kecamatan Tappalang, misalnya saja buah durian, rambutan, atau langsat. Dengan bangunan kecil yang dibuat seadanya mirip dengan bangunan semi permanen berukuran sekitar 3 meteran yang cukup untuk menampung bahan-bahan yang mereka tawarkan, para penjual buah ini merupakan warga asli yang bermukim di sekitar jembatan Bolong. Jumlah warga yang menawarkan buah di ujung jembatan ini tidak banyak dan kemunculannya hanya pada musim buah saja.

Cerita lalu soal keangkeran jembatan ini begitu banyak berkembang, semenjak lama mungkin puluhan tahun sebelum saya menjejaki jembatan ini cerita-cerita misteri jembatan Bolong sudah akrab ditelinga. Orang-orang yang melalui jalur trans sulawesi barat pasti mengetahui betul tentang jembatan ini, coba saja anda bertanya pada sopir angkutan umum dengan izin trayek Majene-Mamuju, Makassar-Mamuju hampir semua sopir tahu tentang letak dan cerita keangkeran jembatan ini. Singkatnya cerita misteri jembatan Bolong telah melegenda sejak lama. Namun, belakangan beberapa tahun terakhir ini jembatan ini seolah aman-aman saja, saya tak pernah lagi mendengar cerita-cerita itu, dan kesan saat pertama kali menjejaki jembatan ini adalah panorama sekitarnya indah, mengalahkan cerita keangkerannya.

Biarlah kemudian cerita misteri jembatan Bolong melegenda, agar pengendara yang ingin melewati jembatan dan jalur trans sulawesi barat tetap mawas diri dan bersikap hati-hati, karena memang jalur jalan yang berkelok-kelok menjadikan faktor resiko kecelakaan menjadi sangat tinggi. Dan satu yang perlu digaris bawahi disini yaitu jalur trans sulawesi barat sebagian besar adalah daerah yang masih asri dan alami karena belum tersentuh oleh tangan-tangan manusia. Begitupula kondisi yang terjadi pada  jembatan Bolong dan vegetasi di sekitarnya saat ini.

Pupuq Mandar Dan Nilai Nutrisinya

Pupuq Mandar, lauk  dari ikan bercampur kelapa yang khas dari suku Mandar, Sulawesi Barat ini saat dilihat selalu mengingatkan pada tanah Mandar. Bagaimana tidak jika rasa, aroma, dan bentuknya yang unik hampir selalu ditemui saat aktivitas makan, entah itu di acara-acara adat daerah, perkawinan, sunatan, kelahiran, bahkan pada saat kematian. Dalam baki besar atau biasa disebut “kappar” ia akan berpadu dengan sayur kari ayam, sambal goreng, telur rebus dan lauk lainnya. Sehingga jika lama tidak bertemu dengan lauk ini maka memori akan sejenak melakukan “flashback” sejenak sebelum memakannya, betapa wilayah suku Mandar identik dengan lauk ini.

pupuq mandar
Pupuq Mandar (Foto : Tommuane Mandar)
Bahan lauk pupuq Mandar yang terdiri atas ikan yang dicampur dengan rasa gurih kelapa memang sangat lezat untuk dinikmati, bahkan jika suatu saat di meja makan hanya ada sepiring pupuq, maka lauk tunggal ini dengan paduan nasi hangat sepertinya masih cukup untuk mewakili rasa makanan yang lezat. Rasanya yang tajam dengan bumbu dan proses pengolahannya yang digoreng membuat ia memiliki kandungan minyak dan bumbu yang jauh meresap ke dalam setiap butir-butir bahannya, melahirkan rasa gurih dan lezat sempurna.

Beberapa makanan lokal khas suku Mandar, Sulawesi Barat dikenal tidak cukup sehat, ada proses pengolahan seperti penggorengan, penambahan elemen santan dan penambahan minyak untuk alasan gurihnya masakan. Pengolahan-pengolahan makanan ini akan berpengaruh terhadap nilai nutrisi yang dimilikinya.

Nutrisi Pupuq Mandar

Jika kemudian dilakukan tinjauan terhadap nilai nutrisi pupuq maka kita cenderung akan menyimpulkan bahwa lauk ini unggul di bahan utama yaitu ikan. Jenis ikan yang biasa dijadikan untuk membuat pupuq adalah jenis ikan tongkol atau ikan tuna. Ikan yang menjadi komoditi bahari utama di wilayah pesisir Mandar, Sulawesi Barat tidak diragukan lagi menjadi sumber asupan protein terbaik untuk proses pertumbuhan dan pergantian sel-sel di jaringan tubuh.

kuliner pupuq mandar
Kuliner pupuq Mandar (Foto : Tommuane Mandar)
Pengolahan pupuq Mandar yang dicampur dengan bumbu-bumbu dan penambahan sedikit kelapa dibentuk dengan daun pisang dan digoreng adalah rangkaian proses pembuatannya. Langkah penggorengan dalam hal ini sedikit banyak mempengaruhi kandungan nutrisi. seperti diketahui bahwa ikan yang diolah dengan digoreng akan kehilangan asam aminonya, karena itu banyak saran dari pakar kesehatan yang merekomendasikan untuk tidak menggorengnya jika ingin mendapatkan manfaat protein hewani ikan yang seutuhnya. Protein dengan kandungan asam amino pada ikan tergolong dalam jenis asam amino esensial yang dapat membantu perkembangan tubuh. Karena digoreng, kandungan asam amino ikan dalam pupuq sendiri cenderung akan berkurang, belum lagi efek negatif minyak sebagai faktor penambah elemen lemak dan penambah kolesterol yang tidak sehat.

Lalu bagaimana kemudian bersikap dengan nilai nutrisi pupuq Mandar yang akan cenderung berkurang ketika digoreng. Mungkin tidak banyak yang dilakukan, karena tidak mungkin mengubah secara mendasar teknik pengolahan kuliner ini dengan merebusnya atau dengan cara lainnya. Saran yang bijak adalah konsumsilah dalam jumlah yang terbatas, terutama jika anda memiliki masalah dengan tingkat lemak atau kolesterol yang tinggi. Seperti yang diketahui juga bahwa pupuq biasanya digoreng dengan menggunakan produk minyak Mandar yang terbuat dari kelapa dan memiliki kandungan kolesterol yang tinggi. Jika anda mengonsumsi pupuq yang juga digoreng dengan minyak Mandar maka ini dapat menyumbang untuk peningkatan nilai kolesterol anda.

Tidak juga kemudian bijak jika anda menghindarkan untuk sama sekali tidak mengonsumsi lauk ini (Pupuq). Anda akan kehilangan sensasi rasa gurih dan lezatnya yang tidak akan anda dapatkan di lauk lain. Nikmatilah lauk ini dalam jumlah yang wajar selama kondisi tubuh anda masih berada dalam keadaan yang cukup sehat.

Meraba Ujung Lero Dari Kejauhan

Menjelaskan Ujung Lero, walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke daerah komunitas Mandar besar di tanah Bugis ini bukanlah hal yang tidak mungkin, media informasi yang begitu luas saat ini memungkinkan kita "meraba"  suatu daerah tanpa harus menjejakkan kaki terlebih dahulu.

Ujung Lero hanya sesekali saya pandangi dari bibir pantai kota Pare-Pare, letaknya yang strategis tepat di mulut teluk membuatnya menjadi mudah untuk dilsaksikan dari kejauhan, sangat jelas jika anda berdiri di sepanjang pantai Pare-Pare.

ujung lero dari bibir pantai pare-pare
ujung lero dari bibir pantai pare-pare (Foto : Tommuane Mandar)
Ujung Lero, adalah salah satu desa sentra pemukiman etnis Mandar di kecamatan Suppa kabupaten Pinrang, salah satu kabupaten yang berbatasan dengan kota Pare-Pare dan kabupaten Polewali mandar. Daerah ini dihuni oleh dominan etnis Mandar dengan latar belakang dari berbagai daerah di wilayah Polewali dan Majene. Daerah pemukiman ini terlihat sebagai daratan serupa pulau yang memanjang dan tepat di bagian ujungnya terdapat menara masjid Ujung Lero.

Secara umum kecamatan Suppa terdiri dari 2 kelurahan dan 8 Desa, yaitu : Kelurahan Watang Suppa, Kelurahan Tellumpanua, Desa Lero, Desa Watang Pulu, Desa Maritengngae, Desa Tasiwalie, Desa Wiring Tasi, Desa Lotang Salo, Desa Ujung Labuang, Desa Polewali. Orang-orang dari etnis Mandar banyak tinggal di desa Lero dan daerah-daerah pesisir di kecamatan ini. Seperti yang diketahui bahwa etnis Mandar adalah kelompok masyarakat yang sangat dekat dengan laut, laut sudah menjadi teman dan ladang untuk mencari penghidupan, profesi mereka yang sebagian besar nelayan telah menjadikan merek identik dengan kehidupan laut, bermukim di pesisir dan menggantungkan hidup dari alam. Sama seperti persebaran etnis Mandar yang juga ditemukan di kabupaten Pangkep tepatnya di Kalmas (Kalukuang-Masalima). Dari dua pola persebaran etnis Mandar ini dapat dlihat secara umum bahwa kelompok masyarakat Mandar banyak tinggal di pesisir dan dekat dengan kehidupan laut.

Ujung lero banyak dihuni oleh etnis Mandar yang berprofesi sebagai nelayan, dari daerah ini pulalah banyak dilahirkan karya-karya seni terbaru tentang lagu-lagu daerah. Ada fakta bahwa karya seni budaya memang dekat dengan alam dan kondisi sosial masyarakat, laut bisa menjadi inspirasi yang sangat baik dalam menelurkan sebuah karya sastra, baik itu dalam bentuk puisi, senandung, ataupun lagu daerah. Ada banyak penyanyi dan pencipta lagu daerah Mandar yang menghiasi label rekaman dan berasal dari Ujung Lero. Ada yang mengatakan bahwa Ujung Lero adalah tempat bermukimnya orang Mandar ketika bencana gempa bumi tahun 1961 melanda tanah Mandar. Entahlah seperti apa yang jelasnya.

Minimnya informasi seputar Ujung Lero, karena daerah ini masih asing bagi, dan saya hanya bisa memandangi dan merabanya dari kejauhan saja.